Minggu, 1 November 2026  |  Jakarta, Indonesia
mediasharing.web.id  |  Cari berita
Portal berita Indonesia — kabar yang sedang ramai dibicarakan, dirangkum dari sumber tepercaya.
Beranda » Otomotif » Harga BBM 1 November Tidak Berubah, Shell Beralih ke Isla, Hoaks Kenaikan Diluruskan
Otomotif

Harga BBM 1 November Tidak Berubah, Shell Beralih ke Isla, Hoaks Kenaikan Diluruskan

Bagikan:WhatsAppXFacebook
Ilustrasi pengendara motor berhelm dilihat dari belakang sedang mengisi bahan bakar di pompa bensin sederhana tanpa merek
Ilustrasi: pengendara motor mengisi bahan bakar di sebuah SPBU. Harga BBM Pertamina dan operator swasta tidak mengalami perubahan per 1 November 2026. (Ilustrasi generasi AI)

JAKARTA — Harga bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina maupun swasta tidak berubah pada Minggu, 1 November 2026. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Pertamax Rp15.950 per liter untuk wilayah Jakarta dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 5 persen, mengikuti daftar harga resmi yang berlaku pada periode sebelumnya.

Produk PertaminaHarga per LiterStatus
PertaliteRp10.000Tetap (subsidi)
BiosolarRp6.800Tetap (subsidi)
PertamaxRp15.950Tetap
Pertamax Green 95Rp19.150Tetap
Pertamax TurboRp19.600Tetap
DexliteRp23.700Tetap
Pertamina DexRp25.200Tetap

Di SPBU swasta, gambarnya serupa. Shell saat ini hanya menjual Shell V-Power Diesel seharga Rp25.420 per liter — lini bensinnya tidak tersedia di pasar domestik sejak awal 2026. Vivo mematok Revvo 92 Rp16.130 dan Revvo 95 Rp19.330, sedangkan BP menjual BP 92 Rp16.130 dan BP Ultimate Rp19.330; produk diesel ketiga operator kompak di Rp25.420 per liter. Menurut catatan Industry.co.id, selisih harga bensin Pertamina dengan swasta hanya Rp180 per liter, dan Rp220 per liter untuk diesel.

Ditahan di Tengah Minyak Dunia yang Mahal

Harga yang bertahan ini berdiri di atas tekanan yang tidak kecil. Minyak Brent kontrak Desember ditutup menguat 2,4 persen ke US$117,64 per barel pada perdagangan Jumat (30/10), setelah sempat menyentuh US$118. Kontrak Januari 2027, yang kini menjadi acuan aktif, berada di US$113,43 per barel. Sepanjang Oktober 2026, Brent naik 13,6 persen, ditopang serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz dan klaim serangan Houthi ke fasilitas Saudi Aramco. Sementara itu, Indonesian Crude Price (ICP) September 2026 ditetapkan Kementerian ESDM sebesar US$112,81 per barel — jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. ICP Oktober belum diumumkan.

Untuk BBM subsidi, pemerintah sudah mengunci keputusan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia berulang kali menegaskan harga Pertalite dan Biosolar tidak akan naik sampai 31 Desember 2026, atas arahan Presiden Prabowo Subianto.

Komitmen kami sebagai Menteri ESDM atas arahan Bapak Presiden, harga BBM subsidi tidak akan kita naikkan sampai dengan 31 Desember 2026.Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM — keterangan Kementerian ESDM, dikutip dari Pranala

Beratnya menjaga janji itu diakui sendiri oleh Bahlil. “Ini bukan pekerjaan gampang, ini pekerjaan wah berat itu. Tapi untuk rakyat, kita harus melakukan yang terbaik,” ujarnya dalam Rapat Kerja Nasional HIPPI di Jakarta, Senin (12/10/2026), seperti dilaporkan Surya Pembaharuan. Untuk BBM nonsubsidi, mekanismenya berbeda: harga mengikuti pergerakan pasar dengan jeda penyesuaian sekitar dua minggu dari perubahan harga acuan, dan pemerintah menjaga cadangan BBM nasional pada standar minimal 18 sampai 21 hari.

Kabar Viral soal Kenaikan, dan Bantahannya

Penegasan berulang itu tidak lepas dari kabar viral yang beberapa kali beredar tahun ini. Pada Agustus 2026, unggahan media sosial mengklaim Bahlil menyebut masyarakat meminta harga BBM naik. Penelusuran fakta Tirto dan Antara menyimpulkan klaim tersebut hoaks — foto yang dipakai dalam unggahan itu adalah dokumentasi acara pembentukan Satgas Hilirisasi pada Desember 2024. Sebulan kemudian, pada 24 September 2026, Kementerian ESDM membantah kabar bahwa Pertalite akan naik menjadi Rp13.500 per liter mulai 26 September; juru bicara kementerian, Dwi Anggia, menyatakan informasi itu hoaks.

Meluruskan kabar mengenai kenaikan harga BBM nonsubsidi, Bahlil menjelaskan bahwa harga nonsubsidi memang bergerak mengikuti pasar, bukan diputuskan sepihak. “Kalau harga minyak nonsubsidi, itu akan mengikuti harga pasar. Kalau harga pasar globalnya itu ICP-nya naik, otomatis dia akan naik. Tapi kalau harga ICP-nya turun, pasti juga dia akan melakukan koreksi,” kata Bahlil pada 22 September 2026, seperti dikutip InvestorTrust.

SPBU Shell Kini Dikelola Isla Energy

Perubahan lain terjadi di jaringan SPBU Shell. PT Shell Indonesia menyelesaikan pengalihan bisnis SPBU-nya kepada SEFAS Group pada Jumat (30/10/2026). Operasional sekitar 200 SPBU — lebih dari 160 di antaranya berstatus milik perusahaan — kini berada di bawah PT Isla Energy Indonesia, termasuk kegiatan pasokan dan distribusi serta terminal BBM di Gresik, Jawa Timur. Kesepakatan akuisisi 100 persen bisnis ini dicapai pada Agustus 2026 dan menunggu persetujuan regulator sebelum akhirnya rampung pekan ini.

Berdasarkan perjanjian lisensi merek, merek Shell akan tetap digunakan di seluruh jaringan SPBU PT Isla Energy Indonesia dan konsumen akan terus memiliki akses untuk menggunakan produk bahan bakar minyak (BBM) Shell.Manajemen Shell, keterangan resmi Jumat (30/10/2026) — dikutip dari Fortune Indonesia

Artinya, logo kerang kuning tidak hilang dari pinggir jalan: merek dan produk BBM Shell tetap dijual di jaringan tersebut di bawah lisensi, sementara kepemilikan bisnisnya berpindah ke grup perusahaan Indonesia. SEFAS sendiri bukan pemain baru bagi Shell — perusahaan ini dikenal sebagai distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia. Yang tidak ikut dialihkan adalah bisnis pelumas Shell, yang tetap dijalankan Shell. Bagi pelanggan, kepesertaan program loyalitas bermigrasi ke aplikasi Shell GO+ Indonesia, dengan pengelolaan data anggota beralih ke PT Isla Energy Indonesia, sebagaimana disampaikan perusahaan kepada pelanggan melalui surat elektronik.

Bagi pengendara, situasi memasuki November ini jelas: harga di pompa tidak bergerak, janji harga subsidi berlaku sampai 31 Desember 2026, dan penyesuaian berikutnya — bila ada — hanya menyentuh BBM nonsubsidi mengikuti harga acuan. Harga di luar Jakarta dapat berbeda mengikuti besaran PBBKB masing-masing daerah.