Rabu, 4 November 2026  |  Jakarta, Indonesia
mediasharing.web.id  |  Cari berita
Portal berita Indonesia — kabar yang sedang ramai dibicarakan, dirangkum dari sumber tepercaya.
Beranda » Kesehatan » Kasus DBD 2026 Tembus 362.497, Kemenkes Minta Warga Waspada Jelang Musim Hujan
Kesehatan

Kasus DBD 2026 Tembus 362.497, Kemenkes Minta Warga Waspada Jelang Musim Hujan

Bagikan:WhatsAppXFacebook
Nyamuk Aedes aegypti dengan perut penuh darah sedang mengisap darah di permukaan kulit manusia
Foto arsip: nyamuk Aedes aegypti mengisap darah di permukaan kulit manusia. Foto: Departemen Pertanian AS/Wikimedia Commons (domain publik)

JAKARTA — Peringatan itu datang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Senin (2/11/2026), di saat kurva kasus sedang melandai. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyebut jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) sepanjang Januari hingga Oktober 2026 mencapai 362.497 kasus, dan meminta masyarakat tidak lengah hanya karena angkanya turun.

Kewaspadaan tetap harus dilakukan karena tren akan meningkat di musim hujan seperti pada awal tahunAji Muhawarman, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes — dilansir Petta, 2 November 2026

Pesan itu beralasan bila melihat pola tiga tahun terakhir. Puncak kasus 2026 terjadi pada minggu ke-38 dengan sekitar 10.500 kasus dalam sepekan. Bandingkan dengan 2025, ketika puncak terjadi pada minggu ke-3 hingga minggu ke-5 dengan lebih dari 20.000 kasus per minggu, dan 2024, ketika puncak berlangsung pada minggu ke-13 hingga minggu ke-21 dengan lebih dari 22.000 kasus per minggu. Puncak 2026 baru sekitar separuh puncak 2025 — tetapi musim hujan yang menjadi musim penularan belum lewat.

TahunPuncak kasusKasus per minggu
2024Minggu ke-13 s.d. ke-21Lebih dari 22.000
2025Minggu ke-3 s.d. ke-5Lebih dari 20.000
2026Minggu ke-38Sekitar 10.500

Jawa Barat Terbanyak, 74.688 Kasus Suspek

Sebaran kasus suspek dengue hingga Oktober 2026 masih menumpuk di Jawa. Jawa Barat mencatat 74.688 kasus, disusul Jawa Timur dengan 49.987 kasus dan Jawa Tengah dengan 45.171 kasus. DKI Jakarta berada di urutan kelima dengan 31.789 kasus. Di ujung lain, Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan jumlah kasus terendah, yakni 32 kasus.

Kemenkes mengingatkan kelompok anak-anak dan lanjut usia perlu mendapat perhatian khusus dalam pencegahan maupun penanganan DBD. Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PP PDUI) periode 2026–2029, Ardiansyah Bahar, menjelaskan bahwa tinggal di bantaran kali atau kawasan lembap tidak otomatis meningkatkan risiko — risikonya membesar ketika lingkungan dipenuhi sampah dan genangan air.

Nyamuk Aedes aegypti umumnya berkembang biak pada genangan air di wadah buatan manusia, seperti ember, bak mandi, drum, kaleng, dan barang bekas yang menampung airArdiansyah Bahar, Ketua Umum PP PDUI — dilansir Petta, 2 November 2026

Di Jakarta, gambaran lapangan itu terlihat dari penuturan warga Palmerah. Blangkon (57), warga Jalan Palem Utara, mengaku sudah terbiasa menghadapi banyak nyamuk karena tinggal di dekat aliran Kali Grogol, dan perlindungannya masih sederhana: krim antinyamuk. Ketua RT 009 RW 005 Kelurahan Kemandoran, Abdul Rohim, menyebut fogging di lingkungannya biasanya dilakukan secara swadaya saat memasuki musim pancaroba, sementara pemantauan jentik oleh kader jumantik berjalan setiap dua minggu.

Sumsel Sudah Bersiap: Surat Edaran Sejak 27 Oktober

Sementara Kemenkes berbicara di tingkat nasional, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) sudah bergerak lebih dulu. Pada 27 Oktober 2026, dinas itu menerbitkan surat edaran kepada pemerintah kabupaten dan kota untuk memperkuat pencegahan, menyusul pola kenaikan kasus setelah fenomena El Nino yang pada tahun-tahun sebelumnya muncul pada Desember hingga Januari.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, menyampaikan jumlah kasus dengue di wilayah itu telah mencapai 3.732 kasus sepanjang 2026. Palembang mencatat angka tertinggi dengan 830 kasus, disusul Muara Enim sebanyak 617 kasus dan Banyuasin sebanyak 485 kasus, menurut laporan BSI News yang melansir Detikcom.

Berdasarkan tren kasus beberapa tahun sebelumnya, peningkatan signifikan kasus dengue akan terjadi setelah El Nino, saat memasuki musim hujan yaitu pada bulan Desember-JanuariIra Primadesa, Kepala Bidang P2P Dinkes Sumsel — dilansir BSI News, 3 November 2026

Proyeksi Dinkes Sumsel menyebut curah hujan intensitas menengah hingga tinggi diperkirakan berlangsung pada November–Desember 2026, sehingga dampaknya terhadap kasus dengue diperkirakan terlihat pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Data bulanannya memberi gambaran jeda yang menipu: pada Oktober 2026 kasus Sumsel tercatat 161, jauh lebih rendah dibandingkan September yang mencapai 391 kasus dan Agustus sebanyak 426 kasus. Penurunan itu belum menghilangkan risiko kenaikan saat hujan meningkat.

Satu angka Sumsel perlu ditulis terbuka karena laporannya berbeda. BSI News mencatat 21 kematian akibat dengue sepanjang 2026, dengan rincian Muara Enim dan Banyuasin masing-masing lima kematian, Musi Banyuasin tiga, Lubuk Linggau dua, serta OKU, Ogan Ilir, Lahat, Palembang, Pagar Alam, dan PALI masing-masing satu kematian. Laporan lain yang juga melansir Detikcom, Media Kompeten pada 21 Oktober 2026, mencatat 22 kematian dengan Banyuasin tertinggi (enam orang). Artikel ini memakai angka 21 dari laporan terbaru, dan selisih satu kematian itu belum bisa dipastikan penyebabnya — bisa karena perbedaan tanggal potong data.

Menurut Ira, keterlambatan memperoleh penanganan medis menjadi penyebab utama sebagian besar kematian: kondisi pasien umumnya sudah berat ketika tiba di rumah sakit, terutama apabila telah mengalami komplikasi atau penyakit penyerta.

Sebagian besar kematian disebabkan keterlambatan pasien datang ke rumah sakit, di mana sudah dalam kondisi Dengue Shock Syndrome (DSS). Adanya komplikasi atau penyakit penyerta juga memperparah gejala dengueIra Primadesa, Kepala Bidang P2P Dinkes Sumsel — dilansir BSI News, 3 November 2026

Lewat surat edaran itu, Dinkes Sumsel meminta daerah meningkatkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus, mengaktifkan kembali gerakan satu rumah satu jumantik, dan mewajibkan fasilitas pelayanan kesehatan mempercepat pelaporan kasus lewat Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS) — maksimal tiga jam sejak pasien memperoleh pelayanan atau perawatan — agar penyelidikan epidemiologi dan deteksi kejadian luar biasa bisa berjalan cepat.

DPR Menagih Pemetaan Sampai Tingkat Kelurahan

Dari Senayan, Ketua DPR Puan Maharani menyoroti kenaikan kasus DBD di sejumlah daerah dan meminta pemerintah memperkuat peran puskesmas dan kader jumantik. Di DKI Jakarta, sebanyak 1.314 kasus ditemukan di Jakarta Selatan hingga September 2026; di Kota Bekasi, totalnya 2.250 kasus untuk periode Januari–September 2026; di Tulungagung, Jawa Timur, terdapat 315 kasus selama sembilan bulan terakhir, dan dua di antaranya meninggal dunia. Dinas Kesehatan DKI Jakarta sendiri telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 35 Tahun 2026 tentang pencegahan DBD lewat sinergi lintas sektor dan integrasi data.

Penguatan peran Puskesmas dan kader Jumantik diperlukan untuk membantu mengedukasi masyarakat untuk mencegah berkembangnya jentik nyamuk. Dan disertai dukungan pelatihan, sarana, serta tindak lanjut temuanPuan Maharani, Ketua DPR RI — dilansir The Iconomics, 19 Oktober 2026

Puan juga meminta Kemenkes mendukung pemerintah daerah memetakan penularan hingga ke tingkat kelurahan dan lingkungan, dengan menghubungkan laporan kasus, hasil pemeriksaan jentik, dan kondisi tempat perkembangbiakan nyamuk — agar tindakan diarahkan pada sumber risiko yang ditemukan, bukan sekadar merespons kasus yang sudah muncul.

Tanda Bahaya yang Harus Segera Dibawa ke Faskes

Pesan yang berulang dari semua pihak ini satu: jangan menunggu parah. Ardiansyah menyebut beberapa gejala yang harus diwaspadai, antara lain demam disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas, hingga penurunan kesadaran. Dinkes Sumsel menambahkan tanda tangan dan kaki terasa dingin. Anak-anak dan lansia membutuhkan perhatian lebih karena berisiko mengalami kondisi yang lebih berat — pada lansia, risikonya bertambah bila memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan ginjal.

Untuk pencegahannya, gerakan 3M Plus yang dianjurkan Kemenkes dan Dinkes Sumsel terdiri dari tiga langkah utama, ditambah langkah pelengkap:

  • Menguras — membersihkan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, dan drum secara rutin.
  • Menutup — menutup rapat wadah penampungan air agar nyamuk tidak bisa masuk dan bertelur.
  • Mendaur ulang — menyingkirkan atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air hujan, seperti kaleng, ban bekas, dan botol plastik.
  • Plus — menaburkan larvasida pada wadah yang sulit dikuras, memakai losion antinyamuk, memasang kelambu, memelihara ikan pemakan jentik, dan memeriksa jentik secara berkala lewat kader jumantik.
Pencegahan perlu mengutamakan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus. Sementara pengasapan (fogging) dilakukan sesuai penilaian petugas kesehatan dan kebutuhan pengendalian, dengan tetap menjaga tindak lanjut terhadap jentik serta tempat perkembangbiakannyaPuan Maharani, Ketua DPR RI — dilansir The Iconomics, 19 Oktober 2026

Artinya, fogging bukan tameng utama: pengasapan membunuh nyamuk dewasa, tetapi tidak membunuh jentik di dalam air. Di Sumsel, pengendalian vektor juga didukung distribusi 200.100 sachet larvasida dan 1.224 botol insektisida, serta vaksinasi dengue — 5.000 anak sekolah dasar di Kota Palembang dilaporkan telah menerima dua dosis, dan hingga data itu disampaikan belum ditemukan kasus dengue pada anak-anak yang telah divaksinasi. Vaksinasi itu sendiri, menurut laporan yang sama, tetap perlu disertai pemberantasan sarang nyamuk dan kewaspadaan terhadap gejala.

Yang Belum Terjawab

Dua hal belum terjawab dari bahan yang dibaca redaksi. Pertama, pernyataan Kemenkes yang dikutip di atas tidak menyebut angka kematian DBD nasional sepanjang 2026, sehingga beban kematian nasional tahun ini belum bisa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kedua, selisih angka kematian Sumsel — 21 menurut laporan 3 November berbanding 22 menurut laporan 21 Oktober — belum ada penjelasan resmi soal tanggal potong datanya. Keduanya akan diperbarui di URL yang sama begitu ada keterangan resmi baru.

Tanya-Jawab

Berapa kasus DBD di Indonesia sepanjang 2026?

Menurut Kemenkes per 2 November 2026, jumlah kasus DBD sepanjang Januari hingga Oktober 2026 mencapai 362.497 kasus. Puncak 2026 terjadi pada minggu ke-38 dengan sekitar 10.500 kasus dalam sepekan, lebih rendah dari puncak 2025 yang lebih dari 20.000 kasus per minggu.

Kapan lonjakan DBD diperkirakan terjadi?

Dinkes Sumatera Selatan memperkirakan curah hujan intensitas menengah hingga tinggi pada November–Desember 2026, sehingga kenaikan kasus diperkirakan terlihat pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Kemenkes juga mengingatkan tren kasus meningkat di musim hujan seperti pada awal tahun.

Apa saja tanda bahaya DBD yang harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan?

Menurut Ketua Umum PP PDUI dan Dinkes Sumsel, tanda bahaya meliputi nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh sangat lemas, penurunan kesadaran, serta tangan dan kaki terasa dingin. Bila tanda itu muncul, pasien perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan karena keterlambatan penanganan menjadi penyebab utama kematian.

Apa itu gerakan 3M Plus?

Menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air. Langkah plus meliputi larvasida, losion antinyamuk, kelambu, ikan pemakan jentik, dan pemantauan jentik oleh kader jumantik.