Rapor Pendidikan 2025: Skor Numerasi SD Naik 11 Poin Lebih

Ada kabar baik dari ruang kelas. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merilis Rapor Pendidikan Indonesia 2025 pada 30 Oktober lalu, dan angka-angkanya bergerak naik: kemampuan membaca dan berhitung siswa membaik di semua jenjang yang diukur. Kenaikan paling mencolok datang dari numerasi anak sekolah dasar, yang melonjak lebih dari 11 poin dalam dua tahun.
Rapor Pendidikan adalah potret mutu pendidikan nasional yang disusun dari Asesmen Nasional, Survei Lingkungan Belajar, dan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Rilis tahun ini ramai dibahas, salah satunya karena datanya tidak lagi hanya untuk kalangan sekolah dan dinas. Republika mencatat, masyarakat kini bisa ikut mengaksesnya lewat platform Rapor Pendidikan Kemendikdasmen yang terbuka untuk publik.
Angkanya: Literasi dan Numerasi Sama-Sama Naik
Untuk literasi membaca, proporsi siswa yang mencapai kompetensi minimum di jenjang SD naik dari 67,09 persen pada 2023 menjadi 71,65 persen pada 2025. Di jenjang SMP, kenaikannya lebih besar: dari 76,42 persen menjadi 81,31 persen, berdasarkan data Kemendikdasmen yang dilaporkan Tempo dan Kompas.
Numerasi mencatat lompatan yang lebih dramatis. Siswa SD yang mencapai kompetensi minimum berhitung naik dari 68,06 persen menjadi 79,63 persen — selisih 11,57 poin, kenaikan tertinggi di antara semua indikator. Di jenjang SMP, numerasi bergerak dari 66,19 persen menjadi 71,06 persen. ANTARA menilai capaian ini mencerminkan peningkatan mutu pendidikan Indonesia, terutama pada kemampuan dasar yang menjadi fondasi jenjang berikutnya.
| Indikator | Jenjang | 2023 | 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|---|
| Literasi membaca | SD | 67,09% | 71,65% | +4,56 poin |
| Literasi membaca | SMP | 76,42% | 81,31% | +4,89 poin |
| Numerasi | SD | 68,06% | 79,63% | +11,57 poin |
| Numerasi | SMP | 66,19% | 71,06% | +4,87 poin |
Dibaca sebagai satu tabel, polanya konsisten: semua indikator naik di kedua jenjang, dan lonjakan terbesar ada di numerasi SD — kemampuan berhitung dasar yang menjadi fondasi hampir semua pelajaran berikutnya. Kenaikan literasi SMP yang nyaris lima poin juga berarti proporsi siswa yang belum mencapai kompetensi minimum membaca kini tinggal kurang dari seperlima, menurut data Kemendikdasmen yang dilaporkan Tempo dan Kompas.
Cara Cek Rapor Pendidikan Daerahmu
Publik dapat membuka platform Rapor Pendidikan dan melihat data agregat per provinsi, lengkap dengan contoh data satu kabupaten/kota di tiap provinsi yang bisa diakses penuh. Pemerintah daerah dan satuan pendidikan memiliki akses yang lebih rinci untuk wilayah dan sekolahnya masing-masing.
Kemendikdasmen memang merancang rapor ini sebagai bahan perencanaan berbasis data: pemerintah daerah diajak menyusun program dari masalah yang benar-benar terlihat di datanya, bukan sekadar meneruskan program tahun sebelumnya. Jadi, angka-angka ini bukan cuma laporan tahunan — ia dimaksudkan jadi titik awal perbaikan di tiap daerah.
Tapi Peta Kesenjangan Belum Berubah Banyak
Di balik rata-rata nasional yang naik, jurang antarwilayah masih lebar. RMOL mencatat Papua Pegunungan berada di posisi terendah untuk capaian literasi membaca. Sebaliknya, Bali, DI Yogyakarta, dan Kepulauan Riau termasuk provinsi dengan capaian tertinggi. Anak di satu provinsi bisa punya peluang menguasai kemampuan dasar yang jauh berbeda dari anak di provinsi lain — dan selisih itu belum menipis secepat kenaikan rata-ratanya.
Pengamat Mengingatkan: Skor Bukan Segalanya
Kenaikan ini juga disambut dengan catatan kritis. Peneliti Setara Institute, ArusGiri, menilai yang perlu didorong adalah perubahan perilaku belajar dan mengajar di kelas, bukan sekadar mengejar angka, dan instrumen penilaiannya pun perlu terus dievaluasi. Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Irma Yuliana, menambahkan bahwa capaian membaca, menulis, dan berhitung pada level dasar belum cukup untuk memenuhi fungsi pendidikan yang lebih luas.
Kritik itu penting dibaca sebagai penyeimbang: asesmen mengukur kompetensi minimum. Naiknya persentase siswa yang melewati ambang dasar adalah kemajuan nyata, tetapi mutu pembelajaran sehari-hari — rasa ingin tahu, nalar, dan daya saing lulusan — tidak otomatis ikut terangkat hanya karena skornya naik.
Satu Kabar Baik Lain dari Dunia Sains
Pekan ini ada satu sorotan lain yang ikut ramai. ANTARA melaporkan, jurnal sains Nature menyoroti diplomasi sains Indonesia lewat peran Prof. Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Sorotan itu menempatkan Indonesia dalam percakapan sains global — kabar yang jarang datang, dan patut dicatat di tengah perdebatan soal mutu pendidikan di dalam negeri.
Untuk sekarang, Rapor Pendidikan 2025 memberi dua hal sekaligus: alasan untuk optimistis, dan daftar pekerjaan rumah yang tidak pendek. Datanya sudah terbuka untuk publik. Tinggal bagaimana pemerintah daerah dan sekolah memakainya.
Catatan pembaruan — 1 November 2026: artikel ini diperbarui dengan menambahkan tabel capaian literasi dan numerasi per jenjang, tautan platform resmi Rapor Pendidikan Kemendikdasmen sebagai sumber primer, serta tautan bacaan terkait.