Jumat, 6 November 2026  |  Jakarta, Indonesia
mediasharing.web.id  |  Cari berita
Portal berita Indonesia — kabar yang sedang ramai dibicarakan, dirangkum dari sumber tepercaya.
Beranda » Kesehatan » ISPA Akibat Karhutla Tembus 401.586 Kasus, Balita Paling Banyak Terdampak
Kesehatan

ISPA Akibat Karhutla Tembus 401.586 Kasus, Balita Paling Banyak Terdampak

Bagikan:WhatsAppXFacebook
Citra satelit yang memperlihatkan gumpalan asap kebakaran hutan menutupi sebagian wilayah Borneo
Foto arsip: gumpalan asap kebakaran hutan menutupi sebagian Borneo pada 2009. Foto: Wikimedia Commons (domain publik)

JAKARTA — Dari 401.586 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dicatat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 91.913 di antaranya menimpa balita. Anak usia nol sampai lima tahun itu menjadi kelompok yang paling banyak tercatat, di atas anak usia enam sampai sembilan tahun dan lansia.

Angka itu disampaikan Juru Bicara Kemenkes Widyawati dalam siaran Info Bencana Terkini Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Rabu (4/11/2026). Data pemantauannya tercatat hingga Senin (2/11/2026) pukul 16.00 WIB, dan mencakup tujuh provinsi serta 63 kabupaten/kota. Pada 2 November saja, ada penambahan 3.906 kasus.

Data dari pemantauan Kementerian Kesehatan per 2 November 2026 pukul 4 sore tercatat 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di 7 provinsi dan 63 kabupaten kota. Khususnya di tanggal 2 November terdapat penambahan 3.906 kasusWidyawati, Juru Bicara Kemenkes — dilansir Channel9.id, 4 November 2026

Satu hal perlu diluruskan sejak awal: 401.586 adalah angka kumulatif kasus yang tercatat selama periode pemantauan di wilayah terdampak, bukan jumlah orang yang sakit pada satu hari yang sama. Kemenkes sendiri, sejauh yang dikutip media, belum menjelaskan tanggal awal penghitungan kumulatif itu maupun definisinya — apakah pencatatan menghitung individu unik atau juga kunjungan berulang. Maka angka ini belum bisa disamakan begitu saja dengan jumlah orang yang sakit.

KelompokKasus ISPA
Balita usia 0–5 tahun91.913
Anak usia 6–9 tahun87.704
Lansia di atas 60 tahun56.092
Pekerja luar ruangan8.086
Penderita asma/PPOK1.530
Ibu hamil590

Dua kelompok usia anak — balita dan anak enam sampai sembilan tahun — bila dijumlahkan mencapai 179.617 kasus, atau sekitar 45 persen dari total. Tujuh provinsi yang masuk dalam catatan Kemenkes adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Sementara itu BNPB menyebut karhutla masih terjadi di 10 provinsi, jadi cakupan kasus ISPA dan cakupan kebakaran tidak sama persis.

Dari 277 Ribu ke 401 Ribu dalam Tiga Pekan

Jejak angkanya menunjukkan beban yang terus bertambah sepanjang Oktober. Pada 12 Oktober 2026, Kemenkes mencatat 277.075 kasus kumulatif, dengan 62.400 kasus di antaranya menimpa balita. Pada 20 Oktober, totalnya menjadi 314.124 kasus, dan 70.890 kasus atau 22,57 persen di antaranya dialami balita. Sehari-dua kemudian, tepatnya 21 Oktober, total yang dilaporkan mencapai 333.470 kasus.

Dari 333.470 kasus pada 21 Oktober ke 401.586 kasus pada 2 November, kenaikannya sekitar 68.000 kasus dalam 12 hari. Balita secara konsisten menyumbang lebih dari seperlima total kasus pada data Oktober, sehingga perlindungan anak menjadi bagian penting dari respons karhutla, bukan pelengkap.

Tanggal dataTotal kumulatifKasus pada balita
12 Oktober 2026277.07562.400
20 Oktober 2026314.12470.890 (22,57%)
21 Oktober 2026333.470Tidak dirinci di laporan itu
2 November 2026401.58691.913

Udara Masih Berbahaya, Kaltim Masih Naik

Soal arah tren, ada satu perbedaan antar laporan yang perlu ditulis terbuka. Channel9.id yang mengikuti siaran BNPB itu menulis Kalimantan Timur menjadi satu-satunya wilayah yang masih menunjukkan tren peningkatan, sementara Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Barat mencatat penurunan. Validnews, sebaliknya, menulis tren menurun di Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Riau, tetapi meningkat di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Arah tren Kalimantan Barat inilah yang belum bisa dipastikan dari bahan yang dibaca redaksi.

Yang tidak diperselisihkan adalah kondisi udaranya. Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 3 November 2026 pukul 09.00 menunjukkan dua wilayah berkategori berbahaya, yakni Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kota Palangka Raya, ditambah 15 wilayah berkategori tidak sehat, 60 sedang, dan 14 baik. Sehari sebelumnya, Kabupaten Kutai Barat mencatat angka 164 dengan parameter PM2,5, masuk kategori tidak sehat.

Di sisi kebakaran, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut karhutla masih terjadi di 10 provinsi, dengan 864 titik api dan 1.615 hektare lahan dalam penanganan. Berdasarkan data BNPB per 3 November 2026, jumlah titik api di Kalimantan Tengah naik 50 persen menjadi 425 titik, dengan sekitar 664 hektare lahan terbakar. BNPB masih menyiagakan 47 unit alat utama sistem persenjataan untuk penanganan udara, sementara operasi modifikasi cuaca berlanjut, khususnya di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan.

Di sisi lain penurunan tren di 4 provinsi merupakan perkembangan yang positif, tapi tidak boleh membuat kita lengah. Pneumonia itu merupakan gangguan dari kesehatan yang serius, memerlukan penanganan medis, terutama pada kelompok rentan seperti balita, lansia dan masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbidWidyawati, Juru Bicara Kemenkes — dilansir Channel9.id, 4 November 2026

IDAI: Masker Hanya Sementara, Padamkan Sumber Asapnya

Sehari sebelum angka terbaru itu diumumkan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sudah mendesak pemerintah segera memadamkan karhutla demi melindungi anak-anak. Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso menilai polutan PM2,5 dalam asap karhutla berbahaya dan dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan anak. Menurut dia, pemakaian masker dan berdiam di rumah hanya perlindungan sementara.

Dampak penanganan atau pengobatan akibat karhutla terhadap kesehatan atau aspek lain itu luar biasa. Saya kira kalau ditanya apa solusi terbaik ya pemadaman secepat cepatnyaPiprim Basarah Yanuarso, Ketua Umum PP IDAI — dilansir News Hive (melansir CNN Indonesia), 4 November 2026

Piprim juga menyebut pemerintah perlu meminta bantuan negara tetangga apabila tidak mampu menangani kebakaran itu secara mandiri. Dokter spesialis anak subspesialis respirologi Khairiyadi, dalam forum yang sama, memaparkan kenaikan kasus gangguan pernapasan anak sejak karhutla terjadi: di RSUD Ulin, tempatnya bertugas, tercatat 157 kasus ISPA anak pada Juli 2026 ketika luas lahan terdampak 459,68 hektare, lalu 4.926 kasus pada 14 Oktober 2026 dengan lahan terdampak 27.202,97 hektare. Ia mengusulkan penyediaan rumah aman yang memiliki ventilasi dan pasokan oksigen bagi penderita gangguan napas yang tidak dapat keluar dari kawasan terdampak.

IDAI sebelumnya menganjurkan masker bagi anak berusia dua tahun ke atas yang harus keluar rumah, kata anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI Fifi Sofiah pada 16 Oktober 2026. Bagi anak di bawah usia itu, masker sulit dipakai rutin — satu alasan lagi mengapa, menurut Khairiyadi, masker saja tidak cukup.

Rumah Oksigen dan Logistik yang Disiagakan

Untuk menopang warga yang mengalami gangguan pernapasan, Kemenkes menyiagakan rumah oksigen di wilayah terdampak. Mengacu data per 3 November 2026 pukul 16.00 WIB, sebarannya adalah Kalimantan Tengah 336 lokasi, Kalimantan Selatan 175, Kalimantan Barat 158, Jambi 131, Riau 10, Sumatera Selatan tiga, dan Kalimantan Timur satu — total 814 lokasi.

ProvinsiRumah oksigen (per 3 Nov 2026)
Kalimantan Tengah336
Kalimantan Selatan175
Kalimantan Barat158
Jambi131
Riau10
Sumatera Selatan3
Kalimantan Timur1

Widyawati sendiri mengingatkan bahwa jumlah saja tidak cukup, karena yang menentukan adalah apakah dukungan oksigen itu benar-benar bisa diakses warga yang membutuhkan.

Yang menjadi perhatian kami sebenarnya bukan semata-mata jumlah dari rumah oksigen saja yang tersedia, melainkan juga bagaimana memastikan dukungan oksigen tersebut dapat diakses masyarakat yang membutuhkan, terutama bagi pasien-pasien yang terganggu pernafasannyaWidyawati, Juru Bicara Kemenkes — dilansir Informasiraja (melansir Liputan6), 4 November 2026

Di luar itu, pemerintah memobilisasi 9.355 tenaga kesehatan, menyiapkan pos pelayanan di 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat. Logistik yang disalurkan mencakup sekitar 3,8 juta masker, 280 konsentrator oksigen, 939 tabung oksigen, 41.000 pasang sarung tangan medis, serta alat pelindung diri, alat penyaring udara, makanan gizi tambahan, paket obat-obatan, dan vitamin.

Yang Diimbau ke Warga di Wilayah Berasap

Kemenkes mengimbau warga di wilayah terdampak mengenakan masker saat keluar, mengurangi aktivitas di luar ruangan, menjaga kebersihan, mencukupi air putih, mengonsumsi makanan bergizi, dan memantau kualitas udara lewat kanal resmi. Warga yang mengalami batuk, sesak napas, atau iritasi mata diminta segera pergi ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Paparan asap dan partikel debu juga menyebabkan iritasi pada mata, karena itu masyarakat diimbau untuk menghindari paparan asap dan tidak menggosok mata ketika terasa perih atau gatalWidyawati, Juru Bicara Kemenkes — dilansir Channel9.id, 4 November 2026

Selain ISPA, warga di area karhutla juga mendatangi klinik karena keluhan lain, meliputi pneumonia, diare akut, gangguan kulit, iritasi mata, hingga serangan panas. Imbauan-imbauan di atas adalah anjuran resmi Kemenkes untuk kondisi darurat asap, bukan panduan diagnosis: warga yang gejalanya memburuk tetap perlu diperiksa langsung di fasilitas kesehatan.

Yang Belum Terjawab

Tiga hal belum terjawab dari bahan yang dibaca redaksi. Pertama, tanggal awal penghitungan kumulatif 401.586 kasus dan definisi kasusnya — individu unik atau kunjungan berulang — belum dijelaskan Kemenkes. Kedua, arah tren Kalimantan Barat berbeda antar laporan, seperti ditulis di atas. Ketiga, belum ada keterangan apakah angka terbaru ini sudah mencakup pemutakhiran setelah 2 November. Ketiganya akan diperbarui di URL yang sama begitu ada keterangan resmi baru.

Tanya-Jawab

Berapa kasus ISPA akibat karhutla menurut Kemenkes?

Menurut Kemenkes per 2 November 2026 pukul 16.00 WIB, tercatat 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak karhutla, termasuk tambahan 3.906 kasus pada 2 November. Angka ini diumumkan Juru Bicara Kemenkes Widyawati dalam siaran Info Bencana Terkini BNPB pada 4 November 2026.

Kelompok usia mana yang paling banyak terdampak?

Kelompok terbanyak adalah balita usia 0–5 tahun dengan 91.913 kasus, disusul anak usia 6–9 tahun dengan 87.704 kasus dan lansia di atas 60 tahun dengan 56.092 kasus. Dua kelompok usia anak bila dijumlahkan mencapai 179.617 kasus, sekitar 45 persen dari total.

Apakah 401.586 berarti 401.586 orang sakit dalam satu hari?

Tidak. Angka 401.586 adalah akumulasi kasus yang tercatat selama periode pemantauan di wilayah terdampak, bukan jumlah orang yang sakit pada satu hari yang sama. Kemenkes belum menjelaskan tanggal awal penghitungan maupun apakah pencatatan menghitung individu unik atau kunjungan berulang.

Apa yang diimbau Kemenkes dan IDAI kepada warga di wilayah berasap?

Kemenkes mengimbau warga memakai masker saat keluar, mengurangi aktivitas di luar ruangan, memantau kualitas udara lewat kanal resmi, dan segera ke fasilitas kesehatan bila mengalami batuk, sesak napas, atau iritasi mata. IDAI menambahkan, masker dan berdiam di rumah hanya perlindungan sementara; solusi utamanya adalah pemadaman sumber asap.