Banjir Lahar Semeru Terjang Lumajang, 1.567 KK Terdampak dan Ayah-Anak Meninggal

LUMAJANG — Sirene peringatan dini sempat terdengar sebelum aliran cokelat pekat itu melintas. Dari rekaman CCTV yang beredar, tampak banjir lahar dingin Gunung Semeru menerjang alur Curah Kobokan pada Senin (2/11/2026) pagi, membawa batu dan kayu dalam arus yang deras — sementara di tiga kecamatan di bawahnya, air sudah menggenangi jalan dan rumah warga.
Ada 1.567 KK yang terdampak dan ini masih dalam pendataan,Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB — dalam konferensi pers daring, Selasa (3/11/2026), dilansir Validnews
- Jumat (30/10), 20.00–23.00 WIB — hujan lebat mengguyur Dusun Jonggrang, Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo.
- Sabtu (31/10), sekitar 01.00 WIB — tebing longsor menimpa satu rumah di RT 22/RW 08. Imron (40) dan putrinya, Hilya (9), meninggal; sang ibu selamat. Longsor susulan menyusul longsor pertama, menurut BNPB.
- Minggu (1/11) malam hingga Senin (2/11) pagi — hujan deras mengguyur kawasan puncak Semeru dan lerengnya. Pos Pengamatan Semeru merekam getaran banjir lahar selama enam jam, pukul 00.00–06.00 WIB, dengan amplitudo maksimum 65 milimeter.
- Senin (2/11), sekitar 05.00 WIB — BPBD Kabupaten Lumajang menerima laporan banjir lahar. Sekitar pukul 07.40 WIB, rekaman CCTV di Curah Kobokan memperlihatkan aliran lahar melintas setelah sirene peringatan dini berbunyi.
- Senin (2/11) — pendataan awal BNPB mencatat 1.417 KK terdampak di tiga kecamatan. Tanggul Sungai Glidik di Desa Purorejo jebol; 117 KK di Dusun Taman Sari terisolasi.
- Selasa (3/11) — BNPB memperbarui angka menjadi 1.567 KK terdampak dan 13 rumah rusak, dengan cakupan rangkaian bencana meluas ke tujuh kecamatan. Pada hari yang sama Semeru empat kali erupsi, puncaknya pukul 12.06 WIB disertai awan panas.
Dari 1.417 ke 1.567 KK: Angka yang Masih Bergerak
Selisih 150 KK antara Senin dan Selasa itu bukan koreksi atas kesalahan hitung, melainkan pendataan yang melebar. Laporan Senin memotret banjir lahar di tiga kecamatan — Pasirian, Jatiroto, dan Tempursari — yang mencakup delapan desa. Pembaruan Selasa dari BNPB memakai cakupan rangkaian bencana yang lebih luas: tujuh kecamatan, yaitu Jatiroto, Senduro, Pronojiwo, Tempursari, Pasirian, Sukodono, dan Candipuro. Rangkaiannya pun lebih panjang dari sekadar banjir: cuaca ekstrem, tanah longsor, banjir bandang, banjir genangan, dan tanggul jebol.
Satu angka lain masih perlu dibaca hati-hati: soal rumah. Laporan Senin menulis 1.417 rumah terdampak, sementara pembaruan Selasa yang dikutip banyak media menyebut 13 rumah rusak. Keduanya tidak bisa disandingkan begitu saja — yang satu menghitung rumah yang ikut terdampak genangan dan luapan, yang lain menghitung rumah yang tercatat rusak — dan BNPB sendiri menegaskan pendataan masih berjalan. MediaSharing memakai angka terbaru BNPB untuk rumah rusak, dan menulis terbuka bahwa angka rumah terdampak masih bisa berubah.
Berton, dalam konferensi pers yang sama, menyebut dua korban jiwa itu dengan kalimat yang ia ulang dari hari sebelumnya:
Ada dua jiwa yang meninggal, kemarin sudah kami sampaikan, mereka ini adalah bapak dan anak.Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB — dalam konferensi pers daring, Selasa (3/11/2026), dilansir MataMaluku
Tiga Kecamatan Paling Parah: Jatiroto, Tempursari, Pasirian
Di Jatiroto, genangan setinggi 20 hingga 60 sentimeter merendam Dusun Persil, Desa Rojopolo — wilayah RW 09, 10, dan 11 — dengan sekitar 500 jiwa terdampak. Di Tempursari, banjir dan longsor menerjang enam desa sekaligus: Purworejo, Kaliuling, Purorejo, Tempursari, Bulurejo, dan Pundungsari, dengan sekitar 600 jiwa terdampak. Dusun Taman Sari di kecamatan itu terputus total setelah arus Sungai Glidik memutus akses jalan.
| Kecamatan | Dampak utama yang tercatat |
|---|---|
| Jatiroto | Genangan 20–60 cm di Dusun Persil, Desa Rojopolo (RW 09–11); sekitar 500 jiwa terdampak |
| Tempursari | Banjir dan longsor di 6 desa; sekitar 600 jiwa terdampak; 117 KK Dusun Taman Sari terisolasi; 3 rumah rusak, 10 rumah terancam |
| Pasirian | Tanggul Sungai Glidik di Desa Purorejo jebol; kerusakan tanggul di Desa Gondoruso; genangan di permukiman |
| Pronojiwo | Longsor Dusun Jonggrang, Desa Tamanayu (31/10): 2 meninggal, 1 rumah rusak sedang |
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menjelaskan pemicu banjir lahar itu dalam keterangan yang dikutip BSI News:
Kejadian tersebut dipicu oleh hujan dengan intensitas lebat yang berlangsung cukup lama sejak Minggu. Selain itu, aliran Sungai Glidik yang berhulu di kawasan Gunung Semeru mengalami peningkatan debit air sehingga mengakibatkan banjir di wilayah tersebut,Satriyo Nurseno, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur — dilansir BSI News
Penanganan di lapangan berjalan lewat Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Lumajang bersama tim gabungan: membuka kembali akses jalan tembus Tamansari–Iburaja yang tertutup longsor, menyalurkan logistik berupa makanan siap saji dan lauk pauk, memantau debit sungai, jembatan limpas, dan tanggul, serta memulihkan layanan vital bersama Forkopimda, kecamatan, desa, dan PLN. Listrik di beberapa titik masih terganggu sampai Selasa, dan BNPB meminta warga menjauhi aliran sungai yang berpotensi dilalui banjir lahar dingin serta mengikuti arahan petugas.
Bukan Hanya Lumajang: Enam Kabupaten Jawa Timur Kena Bersamaan
BPBD Provinsi Jawa Timur mencatat banjir dan longsor pada 2 November terjadi di enam kabupaten sekaligus — Lumajang, Malang, Pacitan, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi — semuanya dipicu hujan lebat sejak Minggu malam. Di luar Lumajang, kerusakannya lebih ringan, tetapi polanya sama: sungai meluap, tebing runtuh, jalan tertutup.
| Kabupaten | Dampak 2 November 2026 |
|---|---|
| Malang | Luapan menggenangi Desa Sitiarjo dan Desa Lebakharjo (30–40 cm); longsor di Ampelgading, Dampit, Sumbermanjing Wetan, dan Bantur menutup jalan |
| Pacitan | Tebing longsor di Dusun Jeruk, Desa Ngumbul, Kecamatan Tulakan, sekitar 05.00 WIB; 1 rumah rusak ringan |
| Bondowoso | Dinding sawah 14 meter × 4 meter ambrol di Desa Gunosari, Kecamatan Tlogosari, menimpa tembok rumah |
| Jember | Luapan Sungai Silo menggenangi jalan antardesa di Dusun Kebun Langsep, lalu surut |
| Banyuwangi | Genangan 10–25 cm di Dusun Margomakmur, Desa Kalibaru Kulon akibat drainase tersumbat; 1 rumah rusak ringan |
Soal korban jiwa di rangkaian enam kabupaten itu, pernyataan Satriyo yang berbunyi "korban jiwa nihil" merujuk spesifik pada longsor-longor jalan di Malang, bukan pada keseluruhan rangkaian — dua korban jiwa di Lumajang, yang berasal dari longsor Pronojiwo 31 Oktober, tetap tercatat BNPB dalam total kabupaten itu. Pembedaan ini penting karena satu kutipan yang dipenggal bisa membuat pembaca mengira tidak ada yang meninggal sama sekali.
Semeru Masih Siaga: Empat Erupsi dalam Sehari
Di tengah banjir lahar, aktivitas vulkanik Semeru justru naik. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, melaporkan erupsi pada Selasa (3/11) pukul 12.06 WIB disertai awan panas yang jarak luncurnya tidak teramati karena tertutup kabut. Seismogram merekam amplitudo maksimum 22 milimeter dengan durasi sekitar 4 menit 44 detik, dan sepanjang hari itu Semeru tercatat empat kali erupsi, mulai pukul 00.34 WIB hingga 12.52 WIB.
Letusan disertai awan panas dengan jarak luncur tidak teramati dan visual Gunung Semeru tertutup kabut,Agastya Rajendra, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru — laporan tertulis, dilansir BSI News
Status Semeru tetap Level III atau Siaga. Rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang berlaku: tidak ada aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak, tidak ada aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah, dan tidak ada aktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. Sungai-sungai yang diminta diwaspadai adalah Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, plus sungai-sungai kecil anak Besuk Kobokan.
Yang Belum Terjawab
Tiga hal masih menggantung sampai pembaruan Selasa sore. Pertama, jumlah pengungsi dan kerugian materiil belum dirampungkan — pendataan lapangan masih berjalan, dan angka 1.567 KK itu sendiri dinyatakan BNPB masih bisa bertambah. Kedua, nasib 117 KK Dusun Taman Sari yang terisolasi: akses Tamansari–Iburaja sudah dibuka kembali menurut BNPB, tetapi kondisi rumah-rumah yang terancam di Tempursari — 10 rumah yang dicatat berisiko ambruk — belum ada pembaruan lanjutan. Ketiga, berapa lama status Siaga dan larangan aktivitas di sepanjang Besuk Kobokan akan bertahan, mengingat hujan di musim peralihan ini masih berpotensi memicu lahar susulan. BNPB sendiri menutup pembaruan Selasa dengan satu imbauan yang sama seperti hari-hari sebelumnya: warga di lereng dan kawasan rawan longsor diminta meningkatkan kewaspadaan selama hujan berlangsung lama, dan segera menjauh bila menemukan tanda-tanda pergerakan tanah.
Tanya-Jawab
Apa itu banjir lahar dingin yang menerjang Lumajang?
Banjir lahar dingin adalah aliran air hujan yang bercampur material vulkanik — pasir, batu, dan abu — dari lereng gunung api, mengalir lewat sungai yang berhulu di puncak. Di Lumajang, hujan lebat 1–2 November 2026 meningkatkan debit Sungai Glidik dan Besuk Kobokan hingga tanggul jebol dan permukiman tergenang.
Berapa warga yang terdampak bencana di Lumajang?
Per Selasa (3/11/2026), BNPB mencatat 1.567 KK terdampak rangkaian bencana hidrometeorologi di Lumajang, naik dari 1.417 KK sehari sebelumnya, dengan 13 rumah rusak dan 2 korban jiwa. Angka ini masih dalam pendataan dan bisa bertambah.
Apakah Gunung Semeru masih berstatus Siaga?
Masih Level III atau Siaga. PVMBG melarang aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak, dalam radius 5 kilometer dari kawah, dan dalam radius 500 meter dari tepi sungai Besuk Kobokan.



















