Jumat, 6 November 2026  |  Jakarta, Indonesia
mediasharing.web.id  |  Cari berita
Portal berita Indonesia — kabar yang sedang ramai dibicarakan, dirangkum dari sumber tepercaya.
Beranda » Nasional » Helikopter TNI AD Jatuh saat Padamkan Karhutla di Seruyan, 2 Prajurit Gugur
Nasional

Helikopter TNI AD Jatuh saat Padamkan Karhutla di Seruyan, 2 Prajurit Gugur

Bagikan:WhatsAppXFacebook
Helikopter angkut militer berwarna hijau gelap terbang rendah di atas perairan keruh dekat bibir pantai, dengan asap kebakaran lahan mengepul di kejauhan
Ilustrasi: helikopter angkut militer terbang rendah di atas perairan saat operasi pemadaman kebakaran lahan. Gambar ini adalah ilustrasi generasi AI, bukan foto kecelakaan di Seruyan — foto lokasi yang beredar adalah dokumentasi aparat dan kantor berita, sehingga tidak dipakai.

SERUYAN — Helikopter Mi-17V5 milik Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Puspenerbad) jatuh di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11/2026) sekitar pukul 11.18 WIB. Helikopter bernomor registrasi HA-5235 itu sedang mengambil air untuk operasi water bombing — pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari udara — di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

Keterangan terbaru TNI AD yang diterbitkan Indonesia Defense Magazine pada Kamis (5/11/2026) dini hari mengubah gambaran korban: dua kru dinyatakan gugur, lima selamat dan dirawat di RSUD Kuala Pembuang, dan satu kru belum berhasil dievakuasi. Sore sebelumnya, siaran pers TNI AD yang sama masih mencatat satu kru gugur, lima selamat, dan dua kru dalam proses evakuasi.

Hingga saat ini, dua orang kru heli ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, yaitu Mayor CPN Dudi dan Lettu CPN Hafiz. Jenazah keduanya telah dievakuasi ke RSUD Kuala Pembuang,Brigjen TNI Donny Pramono, Kepala Dinas Penerangan TNI AD — keterangan terbaru, dilansir Indonesia Defense Magazine

Kronologi: Berangkat 09.55, Jatuh Saat Mengambil Air

  • Rabu (4/11), 09.55 WIB — Mi-17V5 HA-5235 lepas landas dari Kuala Pembuang menuju Telaga Pulang, untuk memadamkan karhutla di kawasan TNTP. Helikopter itu berpangkalan di Bandara Kuala Pembuang selama operasi karhutla.
  • Rabu (4/11), sekitar 11.18 WIB — Helikopter jatuh di perairan Desa Sungai Perlu saat mengambil air untuk water bombing. Laporan awal menyebut titik jatuhnya sekitar satu kilometer dari bibir pantai, di wilayah Pematang Limau.
  • Rabu (4/11), sekitar 12.30 WIB — Dua kru pertama dievakuasi dengan helikopter Bell Penerbad HA-5172 menuju Bandara Kuala Pembuang, lalu dibawa ke rumah sakit. Helikopter Kamov kemudian dikerahkan membantu penyelamatan kru lainnya.
  • Rabu (4/11) sore — Siaran pers TNI AD mencatat satu kru gugur, lima selamat di RS Kuala Pembuang, dan dua kru masih dalam proses evakuasi. Basarnas mengerahkan enam penyelam dari Kantor SAR Palangka Raya untuk membantu evakuasi.
  • Rabu (4/11) malam — Panglima Kodam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, menjenguk korban di RS Kuala Pembuang dan menyampaikan perkembangan terbaru: dua gugur, lima selamat, satu masih dicari.
  • Kamis (5/11) dini hari — Indonesia Defense Magazine menerbitkan keterangan terbaru Kadispenad: dua kru gugur bernama Mayor CPN Dudi dan Lettu CPN Hafiz; lima selamat; satu kru, Serda Heri, belum dapat dievakuasi karena air sedang pasang.

Dari Satu Menjadi Dua: Angka Korban yang Bergerak

Perubahan angka dalam satu hari ini bukan koreksi atas kesalahan hitung, melainkan hasil evakuasi yang berjalan bertahap di perairan. Keterangan pertama TNI AD, yang dikutip banyak media Rabu sore, berbunyi:

Hingga saat ini, satu orang kru heli ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan jenazahnya sudah dievakuasi ke RS Kuala Pembuang,Brigjen TNI Donny Pramono, Kepala Dinas Penerangan TNI AD — siaran pers pertama, Rabu (4/11/2026), dilansir Indonesia Defense Magazine

Pada malam harinya, Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin yang ditemui awak media usai menjenguk korban di RS Kuala Pembuang memberi gambaran yang lebih baru — dan lebih suram. Soal satu kru yang belum ditemukan, ia berkata:

Kemungkinan masih di dalam pesawat, nah ini masih pencarian. Mudah-mudahan bisa dievakuasi segera malam ini juga,Mayjen TNI Zainul Arifin, Pangdam XXII/Tambun Bungai — wawancara usai menjenguk korban, Rabu malam (4/11/2026), dilansir Ketik.com

Satu selisih kecil lain patut dicatat: siaran pers TNI AD menulis kecelakaan terjadi sekitar pukul 11.18 WIB, sementara Pangdam dalam wawancara yang sama menyebut jatuhnya "kurang lebih sekitar jam 11.00 WIB". MediaSharing memakai pukul 11.18 WIB sebagai waktu resmi, dan menulis perkiraan Pangdam itu sebagai perkiraan lisan, bukan waktu resmi.

Delapan Kru: Siapa yang Sudah Jelas Nasibnya

Helikopter itu diawaki delapan personel. Lima yang selamat, menurut keterangan terbaru Kadispenad, adalah Kapten CPN Febri, Letda CPN Fercis, Pratu Gilang, Serka Kadiya, dan Kapten CPN Suganda — semuanya menjalani perawatan di RSUD Kuala Pembuang. Dua yang gugur adalah Mayor CPN Dudi, yang dalam laporan awal disebut sebagai pilot, dan Lettu CPN Hafiz.

KruStatus per keterangan terbaru TNI AD (5/11 dini hari)
Mayor CPN DudiGugur; jenazah dievakuasi ke RSUD Kuala Pembuang
Lettu CPN HafizGugur; jenazah dievakuasi ke RSUD Kuala Pembuang
Kapten CPN FebriSelamat; dirawat di RSUD Kuala Pembuang
Kapten CPN SugandaSelamat; dirawat di RSUD Kuala Pembuang
Letda CPN FercisSelamat; dirawat di RSUD Kuala Pembuang
Pratu GilangSelamat; dirawat di RSUD Kuala Pembuang
Serka KadiyaSelamat; dirawat di RSUD Kuala Pembuang
Serda HeriBelum dievakuasi; menurut TNI AD, air sedang pasang

Satu perbedaan nama belum dijelaskan TNI AD dan ditulis terbuka di sini: daftar awal delapan kru yang disampaikan Kepala Penerangan Kodam XXII/Tambun Bungai, Kolonel Arh Dodo Sahata, menulis nama kedelapan sebagai Serda Sardi, sementara keterangan terbaru Kadispenad menyebut kru yang belum dievakuasi itu sebagai Serda Heri. MediaSharing tidak menyamakan keduanya begitu saja — apakah itu koreksi penulisan nama atau dua orang berbeda, TNI AD belum menjelaskannya sampai keterangan terbaru terbit.

Apa Itu Water Bombing, dan Kenapa Misi Ini Berisiko

Water bombing adalah metode pemadaman kebakaran dari udara: helikopter menjatuhkan air ke titik-titik kebakaran, setelah mengambil air dari permukaan perairan. Di Seruyan, helikopter itu mengambil air di perairan Desa Sungai Perlu ketika kecelakaan terjadi. Soal apa yang persisnya membuat helikopter itu jatuh pada fase pengambilan air, TNI AD belum menyatakannya.

Yang sudah dinyatakan TNI AD: peristiwa ini disebut kecelakaan kerja saat pelaksanaan tugas operasi pemadaman karhutla, dan penyebabnya masih dalam penyelidikan. Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Muhammad Nas, pada laporan awal juga meminta masyarakat menunggu informasi resmi soal kondisi para kru, karena penanganan masih berlangsung.

Bukan Kecelakaan Mi-17 Pertama bagi TNI AD

Catatan kecelakaan Mi-17 TNI AD sebelumnya memberi konteks kenapa setiap insiden jenis ini langsung menyita perhatian. Pada 6 Juni 2020, Mi-17V5 HA-5141 jatuh dan terbakar di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah, saat latihan manuver taktis: empat prajurit gugur dan lima lainnya luka-luka. Investigasi yang dipaparkan kepada Kepala Staf TNI AD pada Oktober 2020 menemukan komponen yang kurang memenuhi standar dan manajemen latihan terbang yang tidak baik.

Setahun sebelumnya, Mi-17 TNI AD hilang kontak dalam penerbangan Oksibil–Sentani, Papua, pada 28 Juni 2019. Bangkainya baru ditemukan di Pegunungan Mandala, Kabupaten Pegunungan Bintang, pada Februari 2020, dengan 12 penumpang dan awak meninggal dunia. Pangdam XVII/Cenderawasih saat itu menyebut kecelakaan tersebut murni karena faktor cuaca.

Yang Belum Terjawab

Tiga hal masih menggantung sampai Kamis dini hari. Pertama, nasib Serda Heri — apakah ia masih di dalam badan helikopter seperti dugaan Pangdam, dan kapan air surut memungkinkan evakuasi dilanjutkan. Kedua, penyebab jatuhnya helikopter, yang masih diselidiki TNI AD; sejauh ini tidak ada pernyataan resmi soal gangguan teknis tertentu. Ketiga, penjelasan atas perbedaan nama kru kedelapan dalam daftar awal dan keterangan terbaru. TNI AD menyatakan pencarian dan evakuasi terhadap satu kru yang belum ditemukan terus diupayakan, dan penanganan medis lima kru yang selamat menjadi prioritas.

Tanya-Jawab

Apa itu water bombing yang sedang dijalani helikopter tersebut?

Water bombing adalah pemadaman kebakaran dari udara: helikopter mengambil air dari permukaan perairan, lalu menjatuhkannya ke titik kebakaran. Helikopter Mi-17V5 HA-5235 jatuh di perairan Desa Sungai Perlu saat sedang mengambil air untuk operasi itu.

Berapa korban kecelakaan helikopter di Seruyan?

Per keterangan terbaru TNI AD (Kamis 5 November 2026 dini hari): dua kru gugur (Mayor CPN Dudi dan Lettu CPN Hafiz), lima selamat dan dirawat di RSUD Kuala Pembuang, dan satu kru (Serda Heri) belum berhasil dievakuasi karena air sedang pasang.

Apa penyebab helikopter Mi-17V5 itu jatuh?

Belum diketahui. TNI AD menyebut peristiwa itu kecelakaan kerja saat operasi pemadaman karhutla dan menyatakan penyebabnya masih dalam penyelidikan.